Program Makanan Sehat Untuk UMKM dan Kader Posyandu Bagi Peserta Workshop di RW.17 dan RW 18 Kelurahan Sungai Jawi Luar Kecamatan Pontianak Barat

Berdasarkan kegiatan Pengalaman belajar lapangan (PBL) 1 yang dilakukan di kelurahan Sungai Jawi Luar, kususnya di RW 17 & RW 18 didapatkan banyak balita yang Gizi Kurang, hal ini dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan orangtua atau pengetahuan yang rendah terhadap informasi tentang gizi kurang. Saran yang di dapatkan mengenai masalah gizi kurang yaitu agar intervensi dalam mengatasi kejadian gizi kurang ini misalnya berupa evaluasi atau pemberian makanan tambahan/PMT. Program kerja yang dilakukan diantaranya Penyuluhan mengenai pembuatan Puding Labu untuk pemberian tambahan makanan (PMT), penyuluhan mengenai pembuatan Fillet Ikan Nila untuk pemberian tambahan makanan (PMT) dan penyuluhan serta pembagian leaflet dan poster tentang faktor-faktor penyebab terjadinya gizi kurang, pemberian makanan pendamping ASI (MP- ASI) yang beragam, sanitasi lingkungan yang baik, cara mencuci tangan yang baik dan benar. Tidak hanya itu, mahasiswa juga melakukan program kerja dengan Penyuluhan tentang Pembuatan Tempat Cuci Tangan dari Botol Bekas dan Cara Cuci Tangan Pakai Sabun Yang Benar, Penyuluhan mengenai cara penanaman TOGA, dan pembuatan Modul Makanan Sehat Untuk UMKM. Kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) 2 Kesmas bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan Masyarakat tentang gizi kurang, makanan tambahan untuk balita / PMT, pentingnya menjaga kebersihan, cucitangan, dan Tanaman obat keluarga di pekarangan rumah.

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) ada dua macam yaitu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pemulihan dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) penyuluhan. Memiliki tujuan yang sama yaitu untuk memenuhi kebutuhan zat gizi yang dibutuhkan oleh balita. PMT pemulihan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita sekaligus sebagai pembelajaran bagi ibu dari balita sasaran. PMT pemulihan diberikan dalam bentuk makanan atau bahan makanan lokal. Hanya dikonsumsi oleh balita gizi buruk dan sebagai tambahan makanan sehari-hari bukan sebagai makanan pengganti makanan utama.

Penyuluhan dilakukan di Kelurahan Sungai Jawi Luar (RW 17 dan RW 18) Kecamatan Pontianak Barat dengan sasaran utama yaitu masyarakat RW 17 dan RW 18 Kelurahan Sungai Jawi Luar dengan target sarasan sebanyak 30 peserta di tiap Posyandu. Penyuluhan dan praktik dilakukan pada 3 Posyandu yang ada di RW 17 dan RW 18. Materi penyuluhan yaitu tentang Pemberian Tambahan Makanan (PMT) yaitu pembuatan pudding labu yang kemudian di praktekkan pada masyarakat peserta posyandu.

Pembuatan puding Labu, sosialisasi dan Praktik pemberian PMT

PMT merupakan pemberian makanan tambahan. Biasanya, menu PMT diberikan di setiap jadwal buka Posyandu setiap bulannya.Pemberian PMT sangat penting untuk mencegah masalah kurang gizi di kalangan masyarakat. Sebab, kurang gizi bisa menyebabkan gangguan tumbuh kembang, berat badan kurang, stunting, hingga penurunan kecerdasan anak. Tentu hal itu sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak ke depannya.

Penyuluhan dilakukan di Kelurahan Sungai Jawi Luar (RW 17 dan RW 18) Kecamatan Pontianak Barat dengan sasaran utama yaitu masyarakat RW 17 dan RW 18 Kelurahan Sungai Jawi Luar dengan target sarasan sebanyak 30 peserta di tiap Posyandu. Penyuluhan dan praktik dilakukan pada 3 Posyandu yang ada di RW 17 dan RW 18. Materi penyuluhan yaitu tentang Pemberian Tambahan Makanan (PMT) yaitu pembuatan fillet ikan nila yang kemudian di praktekkan pada masyarakat peserta Posyandu.

Pembuatan dan sosialisasi filet ikan nila

Penyuluhan dan praktek pembuatan tempat cuci tangan dari botol bekas dilakukan di Kelurahan Sungai Jawi Luar (RW 17 dan RW 18) Kecamatan Pontianak Barat dengan sasaran utama yaitu masyarakat RW 17 dan RW 18 Kelurahan Sungai Jawi Luar dengan target sarasan sebanyak 30 peserta di tiap Posyandu. Penyuluhan dan praktek dilakukan pada saat workshop, dan praktik cuci tangan pakai sabun dengan benar dilakukan pada 3 Posyandu yang ada di RW 17 dan RW 18. Materi penyuluhan yaitu tentang pembuatan tempat cuci tangan dari botol bekas dan praktik cara cuci tangan pakai sabun yang benar

Pembuatan, sosialisasi dan praktik pembuatan can cuci tangan.

Tanaman Obat Keluarga (TOGA) pada hakekatnya adalah tanaman berkhasiat yang ditanam di lahan pekarangan dan dikelola oleh keluarga. Jenis tanaman toga ditanam untuk memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan tradisional yang dapat dibuat sendiri. Pada umumnya, tanaman obat lebih banyak tumbuh sebagai tanaman liar. Akan tetapi, kini tanaman obat banyak ditanam di kebun dan di lahan pekarangan. Tak sedikit masyarakat memanfaatkannya sebagai tanaman toga.

Penyuluhan dan praktek dilakukan di Kelurahan Sungai Jawi Luar (RW 17 dan RW 18) Kecamatan Pontianak Barat dengan sasaran utama yaitu masyarakat RW 17 dan RW 18 Kelurahan Sungai Jawi Luar dengan target sarasan sebanyak 30 peserta di tiap Posyandu. Penyuluhan dan praktek dilakukan pada saat workshop dan 3 Posyandu yang ada di RW 17 dan RW. Materi penyuluhan yaitu tentang cara penanaman TOGA (Serai, Kunyit, dan Temu Kunci).

Penanaman dan Sosialisasi TOGA

Kegiatan yang dilakukan adalah sosialisasi kepada Tokoh Masyarakat (RT, RW) dan Kader Posyandu pada saat workshop. Kemuadian Leaflet dan poster dibagikan kepada masyarakat peserta Posyandu serta diberikan sosialisasi mengenai Gizi Kurang, Cuci Tangan Pakai Sabun, dan Sanitasi oleh Mahasiswa PBL Kelompok 10 Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pontianak

Leaflet, Poster dan Sosialisasi

Kegiatan yang dilakukan adalah pembagian Modul Makanan Sehat untuk UMKM oleh Mahasiswa PBL-2 pada saat workshop. Kemuadian dilakukan sosialisasi tentang bahan yang ada pada Modul Makanan Sehat untuk UMKM tersebut. Sasaran utama yaitu perserta Workshop dengan jumlah undangan 16 peserta. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai bahan acuan pembelajaran mengenai program kerja dengan tema Makanan Sehat untuk UMKM bagi peserta Workshop RW 17 dan RW 18 Kelurahan Sungai Jawi Luar Kecamatan Pontianak Barat.

Pembagian modul

Kegiatan workshop dan lokakarya

Acara ini hampir serupa dengan seminar. Jika di seminar biasanya peserta hanya bertugas sebagai pendengar, ketika workshop, para peserta akan dilibatkan secara lebih aktif. Bentuk aktivitas ini bisa bermacam-macam, ada yang dipersiapkan untuk keperluan praktik dan latihan langsung, ada juga yang disediakan dalam bentuk diskusi yang lebih intens. Dari segi skala dan durasi, workshop umumnya terbuka untuk jumlah peserta yang lebih kecil, sehingga kelas bisa dijalankan dengan lebih efektif. Tak jarang juga workshop diselenggarakan hingga berhari-hari lamanya, dengan topik yang lebih spesifik dan sesi praktik yang lebih banyak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.